22 September 2010

Ghuraba'


Nasyid Ghuraba' by Sheikh Saad Al-Ghamidi

Laisal gharibu huwalladzi faraqad diyara wadda’al aan
Walakinnal ghariba huwalladzi yajiddu wan naasu min haulihi yal’abun
Wa yash-hu wan naasu min haulihi yanaamun
Wa yasluku darbal khairi wan naasu fii dhalalihim yatakhaththathun
Wa shadaqasy syaa’iru idz yaquul:
Qaala lii shahiibun araaka ghariiba
Baina haadzal anaami duuna khaliili
Qultu, kalla! Balil anaamu ghariibun, ana fii ‘aalami wa haadzihi sabiilii
Haadza huwal ghariib: Ghariibun ‘indal ‘aabitsiina minal basyar
Walakinnahu ‘inda rabbih, fii maqaamin kariim


Bukanlah orang asing itu mereka yang berpisah dari negeri mereka dan mengucapkan selamat tinggal sekarang
Tapi orang asing itu ialah mereka yang tetap serius dikala manusia di sekelilingnya asyik bermain-main
Dan tetap terbangun ketika manusia di sekelilingnya asyik tidur dengan lenanya
Dan tetap mengikuti jalan lurus dikala manusia dalam kesesatannya tenggelam
tanpa arah

Dan betapa benarnya sebuah syair ketika dia berkata
Berkata kepadaku para sahabat, ‘aku melihatmu sebagai orang asing’
Di antara orang banyak ini engkau tanpa teman dekat
Maka aku berkata, sekali-kali tidak! Bahkan orang banyak itulah yang asing, sedang aku berada di kehidupan dan inilah jalanku
Inilah orang asing itu
Asing di sisi mereka yang hidup sia-sia di antara manusia
Tetapi disisi Rabb-nya, mereka berada di tempat yang mulia

Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`


Ghurabaa` wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa` war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaah
Ghurabaa` wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa` war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaah


Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan
Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan

In tasal ‘anna fa inna laa nubaali bith-thughaat
Nahnu jundullaahi dauman darbunaa darbul-ubaa
In tasal ‘anna fa inna laa nubaali bith-thughaat
Nahnu jundullaahi dauman darbunaa darbul-ubaa

Jika engkau bertanya tentang kami, maka kami tak peduli terhadap para taghut
Kami adalah tentara Allah selamanya, jalan kami adalah jalan yang sudah tersedia
Jika engkau bertanya tentang kami, maka kami tak peduli terhadap para taghut
Kami adalah tentara Allah selamanya, jalan kami adalah jalan yang sudah tersedia

Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa` hakadzal ahraaru fii dunyal ‘abiid
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa` hakadzal ahraaru fii dunya-al ‘abiid


Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang
Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina

Kam tadzaakarnaa zamaanan yauma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi natluu-hu shabaahan wa masaa`
Kam tadzaakarnaa zamaanan yauma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi natluu-hu shabaahan wa masaa`


Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di petang hari
Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di petang hari

Qaala Rasulullahi Shallallaahu ‘alaihi was Sallam
Bada-al Islamu ghariiban wa saya’uudu ghariiban kamaa bada-a
Fathuuba lil ghurabaa`


Bersabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi was Sallam
Islam itu bermula dari asing, dan akan kembali asing seperti mulanya
Maka beruntunglah orang-orang yang asing



Sumber: http://akhwatzone.multiply.com

31 Januari 2010

Keindahan dan Kemuliaan Kaum Perempuan


Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik

perhiasan adalah wanita solehah"

(HR Muslim)


Setiap taman mempunyai hembusan angin. Hembusan taman dunia adalah kaum perempuan. Mereka, saudara laki-laki. Ibu para pahlawan. Penuh lembut, indah, rahim orang-orang besar, melahirkan para ulama’, membesarkan orang-orang tangguh, mendidik para pemikir.


Perempuan, itu perasa. Menyakitinya adalah dosa. Memarahinya adalah cela. Barangsiapa yang mencederainya, maka ia tak lagi punya hak mendapat kasihnya. Andai engkau berikan untuknya simpanan mahar, kemudian anda mengabdi kepadanya selama satu bulan, lalu ia melihat ada kekeliruan sedikit dari dirimu, ia mungkin akan berkata, “Aku tak melihat kebaikan apapun darimu.”


Perempuan, di dunia ini adalah hiasan, keindahan dan pemberi inspirasi. Dia adalah pakaian bagi kaum laki-laki. Teman intim dalam kehidupan. Ia juga ibu yang sangat kasih. Sahabat bagi yang bersedih. Lebih baik dari meratap dan menangis. Tapi lebih merisaukan dari rasa sakit dan lara.



Air susunya adalah makanan yang paling tulus. Perlindungan yang diberikannya, benar-benar tulus. Air susunya adalah sumber kasih sayangnya. Di matanya tersimpan rahsia. Di keningnya terdapat banyak cerita. Air susunya menyimpan makna kedermawanan. Dalam pelukannya ada kasih sayang. Rasa laparnya, bererti ia tidak lapar seorang diri. Ketiadaan perempuan dari kehidupan adalah kehilangan banyak kebahagiaan. Ketersembunyian perempuan dalam pentas dunia, adalah membunuh keindahan.


Ia adalah rumah bagi rantai keturunan. Penghimpun banyak prosa dan seni bahasa. Emas tanpa perempuan adalah arang. Mutiara tanpa perempuan adalah selonggok batu. Pendapat dan pandangannya memuat bahasa hati yang boleh anda baca. Anda mengetahui kadar cintanya, dari perempuan yang ditinggal kekasihnya. Dengan perempuan, dipahamilah erti kepergian dan perambungan, pertemuan dan perpisahan, kerugian dan kebingungan, ketidakpedulian dan tuduhan.


Argumentasi perempuan boleh berakibat pada pembunuhan. Hanya kata-kata yang disampaikan kepadanya bisa bermakna meminangnya. Perkataan perempuan adalah sihir yang halal. Kalimat-kalimat dari lisannya mengalir seperti madu. Senyumannya lebih lazat daripada anggur. Perempuan lebih mampu menyihir beranding Harut dan Marut.


Di antara perempuan-perempuan, terdapat Khadijah yang menjadi simbol etika. Khadijah mempunyai istana di syurga. Tak ada kebisingan dan keletihan di sana. Di antara perempuan-perempuan, ada Aisyah binti As-Siddiq. Ia pemilik ilmu, ketelitian dan kredibiliti. Ia disucikan dan suci. Ia mempunyai kelembutan yang luar biasa dan keterpujian yang menonjol. Di antara perempuan-perempuan ada Fatimah Al batul, binti Rasul. Ibu dari Hasan dan Husin. Pemimpin wanita dunia, yang diterima di sisi Rabbul ‘Alamin.



Perempuan adalah kertas putih. Di atasnya laki-laki menulis apa yang ia mahu. Dari kecintaan dan kebencian. Dari kemarahan dan penghinaan. Ia adalah taman yang hijau. Kebun yang menawan. Di dalamnya semua tumbuh-tumbuhan begitu indah dengan segala jenisnya. Pisau mereka adalah cinta, yang mampu menyungkurkan orang yang mempunyai fikiran, dan melemahkan orang yang tangguh, bila berhadapan dengannya. Orang yang berakal di sisinya menjadi tak berdaya. Anda melihat seorang laki-laki melawan singa, bertempur melawan pasukan bersenjata. Tapi orang itu ternyata dikalahkan oleh perempuan! Anda lihat seorang laki-laki sangat hati-hati dan zuhud dalam soal harta. Mampu berpuasa dari makan dan minum. Tapi orang itu juga ditaklukkan oleh perempuan. Anda lihat seorang laki-laki pemberani bisa rebah tidak berdaya, dan dikalahkan tanpa mampu melawan, jika ia menginginkan perempuan. Perempuan, dalam kebenciannya tidak terlihat jelas. Air matanya adalah petunjuk paling nyata bagi yang mencintainya. Rahsia kekuatannya adalah, justeru sebenarnya ia lemah.


Orangorang kafir ingin agar perempuan bebas berhias dengan fitnahnya. Sedangkan Islam inginkan keterlindungan dan ketertutupan, ketakwaan dan kebersihan. Agar perempuan menjadi bukti keindahan dan penerimaan. Orang-orang kafir menginginkan perempuan tampil dengan pakaian menawan. Jika laki-lakinya terfitnah oleh dirinya, dan anak-anaknya membangkang kepadanya, maka generasi keturunannya menjadi sia-sia. Islam ingin agar perempuanterlindung dengan benteng yang sungguh mahal.


Adalah Adam a.s. di syurga tanpa teman dan tanpa pendamping. Lama berlalu masa itu, dan kesepian membuatnya semakin sulit. Maka Allah S.W.T. menciptakan untuknya Hawa. Lalu terciptalah antara keduanya kebersihan dan kesetian. Pertemuan yang baik, perlakuan yang baik. Laki-laki tanpa perempuan bak sebuah buku yang tak berjudul. Raja tanpa kerajaan. Sedangkan perempuan tanpa laki-laki adalah ibarat padang pasir yang tak bertumbuhan dan tak ada pepohonan. Kebun tanpa bunga dan buah.


Terima kasih wahai Aminah binti Wahab. Engkau telah menghadiahkan kepada kemanusiaan. Engkau telah mengajukan pengorbananmu untuk manusia. Seorang anak yang memancar kehormatannya sebagaimana pancaran matahari di waktu dhuha dan bulan saat benderang. Seorang anak yang mengatakan kepada kepercayaan berhala, “Demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya. Jika kalian meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku takkan pernah meninggalkan agamaku. Sampai seluruh desa dan seluruh daratan ini terwarnai oleh agamaku.”


Perempuan-perempuan telah memberikan dunia, para pemimpin di masa khalifah Ar-Rasyidin. Mereka mempersembahkan para pahlawan dan para mujahidin, para ahli dunia dan agama. Perempuan, jika baik perilakunya, suci hijabnya, penuh kasih hatinya, maka rumah akan penuh keridhaan dan dunia menjadi tenteram. Rumah tanpa perempuan adalah mihrab tanpa imam, jalanan tanpa petunjuk. Andai perempuan tersembunyi dari kehidupan, tak ada pelukan dan senyuman, tak ada kata-kata dan ungkapan. Andai perempuan tak wujud di dunia, tak ada keturunan dan kelahiran. Hanya ada para bujangan.


Dalam hadis disebutkan, “Nikahilah perempuan yang kasih sayang dan banyak melahirkan anak.” Rahsianya adalah untuk memperbanyakkan pasukan, menambah jumlah tentera, dan agar Rasulullah s.a.w. membanggakan jumlah yang banyak di hari akhirat.


Kempen menutup aurat di negeri pimpinan Tuan Guru Nik Abdul Aziz bin Nik Mat


Di saat perempuan melucuti hijab, melepaskan jilbab, melawan hukum Islam, keluar dengan liar, katakanlah selamat tinggal kesucian. Bagaimana rumah tanpa pintu boleh terpelihara. Bagaimana istana boleh terlindungi tanpa penjaga. Air akan dijilat dan diminum oleh anjing. Maka, penghuni rumah haruslah menjaga dan melindungi.


Petikan tulisan Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni



29 Januari 2010

Apakah Erti Segulung Ijazah?




Pagi itu adalah pagi yang amat bermakna dalam kehidupan sebahagian manusia yang bergelar mahasiswa. Setelah sekian lama berada di bangku kuliah menimba ilmu, menekuni buku yang berjilid-jilid, dan berhempas pulas berperang di medan ujian, kini harga penat lelah mereka dihargai dengan segulung ijazah yang diterima.

“Wah, ramainya mahasiswa medic yang grad tahun ni! Kalau macam ni, mustahil Malaysia akan kekurangan doktor dalam 5 tahun lagi,” fikir saya.

Daripada 475 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang diwisudakan pada tahun ini sebagai Dokter Muda, saya berada pada urutan ke-238. Kedudukan disusun berdasarkan indeks prestasi kumulatif (IPK) yang paling tinggi ke yang paling rendah.

Berdasarkan nombor urut pun sudah tahu, saya bukanlah pelajar cemerlang yang dapat dicontohi daripada aspek pendidikan dan keilmuan. Namun alhamdulillah, saya tetap bersyukur dapat diwisudakan setelah menghadapi pelbagai aral melintang dalam menepuh kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran.

Dalam kesibukan orang bergembira mengambil foto dengan baju toga (baca: baju konvokenyen) dan segulung ijazah di tangan, saya kembali terfikir, apakah erti segulung ijazah yang diterima itu?


Gambar hiasan : Gembira di hari wisuda

Saya akui ijazah tersebut merupakan sebuah penghargaan dan anugerah atas kejayaan menamatkan pengajian, juga ‘lesen’ penting untuk melangkah ke alam pekerjaan. Tapi apakah hanya sekadar itu?

Apalah ertinya segulung ijazah jika kita belajar hanya sekadar untuk mengejar pointer yang tinggi. Apalah ertinya segulung ijazah jika ia dibeli dengan wang ringgit, tiada keikhlasan, penuh kepura-puraan, hanya untuk dibangga-bangakan, dan tiada mengenal erti kehidupan.

Dengan ijazah sebenarnya kita menggalas suatu tanggungjawab yang besar di hadapan Allah S.W.T. dan juga masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah perlulah diamal dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Kemuliaan ilmu itu terletak apabila ia membawa kepada ketakwaan.

Marilah kita renungkan bersama..


p/s: Alhmdulillah diberi kekuatan oleh Allah untuk menulis blog kembali. Semoga ia menjadi amal soleh untuk kita saling memberi dan menerima dalam menuju redhaNya.


28 Ogos 2009

Hargai Umurmu !!

“Barangsiapa yang tidak menyibukkan diri
dalam kebaikan niscaya akan disibukkan
dalam keburukan”


"Happy birthday to you..happy birthday to to you..”, begitulah ucapan yang sering kita terima setiap kali menyambut hari ulang tahun. Persoalannya, apakah benar kita bahagia? Apakah benar-benar kita telah berprestasi untuk memanfaatkan setiap detik usia muda kita?

Itulah yang sering kita lalaikan, merasa bertambah usia, padahal kontrak hidup kita semakin hari semakin sempit. Menurut Nabi SAW, rata-rata umur umatnya sekitar 60 tahun. Waktu kita sama sehari 24 jam. Tetapi kenapa prestasi yang dicapai oleh kita berbeza?

Perhatikan, masing-masing waktu kita sama: 60 saat dalam 1 minit, 60 minit dalam 1 jam dan 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan seterusnya. Kalau umur kita 60 tahun, dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur, maka sepanjang umur 60 tahun kita telah menghabiskan 20 tahun hanya untuk tidur! Hitunglah sendiri kalau tidak percaya. Ini tidak termasuk makan, bermain, online internet, menegelamun, dan lain-lain. Na’uzubillahhi minzaalik.


Orang-orang cemerlang menyedari bahawa usia harus berkadar lurus dengan prestasi. Sejak awal mereka menapaki usianya untuk meraih prestasi. Diantaranya yang paling menonjpl adalah ditanamkan dan diwujudkan hafalan al-Quran sejak usia muda. Kalau sekarang sering terdengar ‘kempen nikah muda’, zaman salafus salih telah awal-awal mengkempenkan ‘hafal al-Quran dan mencintai ilmu’ di usia muda.


Nikah dini: dambaan kebanyakan remaja Islam


Imam Syafi’i misalnya, beliau telah menghafalkan al-Quran pada usia 9 tahun. Kemudian pada usia 10 tahun beliau telah menghafal isi kita Al Muwatha’ karangan Imam Malik yang berisi 1,720 hadis dengan sempurna. Para ahli hadis kebanyakannya telah mengahafal al-Quran pada usia muda dan mengkaji, menelaah, mentakhrij, menghafal dan menulis hadis di usia belasan tahun.

Usamah bin Zaid menjadi panglima perang usia 18 tahun. Muhammad bin Qasim menjadi panglima perang usia 17 tahun. Tharafah bin Al Abdu Syahid menjadi panglima perang dalam usia 26 tahun. Sementara saat ini banyak remaja dan pemuda pemudi Islam bukan sahaja jauh dari budaya mencintai ilmu dan menghafal al-Quran, malah ‘belum tahu siapa dirinya’!

Temukan jati dirimu!

Aku mesti Berubah !!!


Kembalilah kita bermuhasabah, apa yang telah, sedang dan akan kita lakukan dengan :

1. hidupmu sebelum matimu
2. sihatmu sebelum sakitmu
3. kelapangan sebelum sibukmu
4. mudamu sebelum tuamu
5. kayamu sebelum miskinmu

Inilah yang dianjurkan Nabi SAW. Contohi juga para ulama’ besar kita dalam menggunakan waktu. Mereka menggunakan setiap kesempatan menuntut ilmu sehingga kesempitan, ketertindasan bahkan penjara menjadi madrasah bagi mereka. Bila para ulama’ belajar untuk menghasilkan karya dan menghafalnya, sayang sekali kita sekadar membaca karya mereka pun susahnya bukan main. Apalagi untuk menghafal dan menghasilkan karya besar. Inilah something wrong yang harus kita temukan jawapanya dan kita ubah paradigmanya.


Wallahu 'alam


oleh: Wan Mohd Suhafifi bin Sukri


15 Mac 2009

MaduKu, MaduMu



“..Dari perut-perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat ubat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-ornag yang berfikir.”

(Surah An: Nahl; 69)


Kini tawaran hebat untuk mereka yang mahu yakin dan mahu mengamalkan meminum madu!!



Cuma Rp 25,000.00 (RM 10.00)

(termasuk kos penghantaran- hanya khusus di Medan)


Jangan lepaskan peluang..yakinlah dengan amalan sunnah ini.. Hidup Sihat Dengan Minum Madu !!


Kagum !! YDP dan NYDP PKPMI-CM turut mengamalkan minum madu

sebagai usaha untuk menambah tenaga dan buah fikiran mereka ketika beraktiviti.


Untuk maklumat lanjut/tempahan, sila hubungi:


  1. Wan Mohd Suhafifi bin Sukri ( +628192166715/ ngopi_8487@yahoo.com)
  2. Ahmad Aizutnur bin Zakaria ( +6287868451372)


09 Mac 2009

Kenapa Anda harus Bersiwak ?


Daripada Ibn Umar r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jadikan bersugi itu satu amalan, kerana ianya (bersugi) menyihatkan mulut dan merupakan kesukaan kepada Maha Pencipta”
( Hadis Riwayat Al-Bukhari ).


Nabi Muhammad S.A.W. telah menganjurkan kita untuk bersiwak / bersugi sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu.

Apakah amalan sunnah ini masih relevan di dalam dunia yang serba moden ini?

Apakah kelebihan bersiwak berbanding menggunakan berus gigi dan ubat gigi yang kita pakai sehari-harian?

Ingin tahu jawapannya?

Sila klik [di sini] untuk anda menghilangkan keraguan anda.

07 Mac 2009

Ponteng...



“Wansu, ko tolong absen untuk aku ye hari ini. Aku letih la nak masuk kuliah..”, sms seorang temanku ketika berada di dewan kuliah. Ketika itu dosen sedang kusyuk mengajar di hadapan. Ini bukan pertama kali smsseumpama ini aku terima, dan bukan juga cuma dari satu orang !! Menyampah aku dibuatnya.

Gejala ponteng kuliah sudah makin menjadi-jadi. Makin meningkat semester, makin bertambah pula bilangan kerusi yang kosong di dalam dewan kuliah. Dulu meriah, sekarang sunyi. Dosen sering tertanya-tanya, hanya sebanyak inikah pelajar di dalam kelas ini?

Aku sebenarnya lebih sukakan keadaan begini. Sedikit orang. Jadi, aku lebih mudah fokus ketika dosenmengajar. Namun di sisi yang lain, aku sedih dan simpati. Ke manakah teman-temanku yang dulu duduk di sebelah kiri dan kananku? Ke mananakah semangat mereka yang dulu selalu membuat aku termotivasi untuk tidak putus asa dalam belajar? Kenapa dalam sekelip mata berubah seperti ini?

”Aku perlu berbuat sesuatu!” detik hatiku. Ya, takkan aku biarkan saja teman-teman aku hanyut di buai arus dunia. Maka setelah selesai kuliah hari itu, aku segera mendapatkan Supra X 125-ku yang sentiasa bersedia untuk membawaku ke mana-mana. Tempat yang bakal aku tuju adalah rumah temanku yang menghantar smspadaku pagi tadi.

Aku tahu, rumah yang bakal kutujui ini adalah port di mana hampir 90% ahlinya suka ponteng kuliah. Aku sudah dapat jangkakan apa yang bakal aku temui bila aku sampai ke sana. Namun aku belum merencanakan apa-apaplan untuk menghadapi mereka semua. ”Ah, bagaimana ya?!” fikirku.

Sah! Memang persis seperti jangkaanku. Sampai sahaja aku di sana, semuanya masih nyenyak dibuai mimpi. Kalau diukur dari sudut kualiti kedaran seperti apa yang aku pelajari di kuliah, mereka mungkin berada pada tahap sopor, tidak sedarkan diri. Mungkin ini bukan masa yang terbaik untuk aku mengganggu mereka.

Bagiku, bukanlah sesuatu yang pelik apa yang berlaku terhadap teman-temanku itu. Malamnya dihabiskan dengan bermain Dot-A, permainan komputer yang mendapat sambutan hangat di kalangan anak muda sekarang. Bukan hanya malam-malam minggu mereka begitu, tetapi hampir setiap malam perlawanan antara mereka diadakan.




Permainan komputer DotA yang menjadi gilaan para remaja kini


Aku amat sedih apabila mendapat tahu ada di antara mereka yang langsung tidak pernah ke skill lab untuk blokBrain and Mind System ini, dan cuma dua kali ke kelas tutorial. Silap hari bulan, mungkin dia akan dropped out(DO). Parah!

Sampai sekarang aku masih menemui jalan buntu bagaimana membawa teman-temanku ini kembali ke pangkal jalan. Sudah dinasihat, tetapi seperti menuang air di atas daun keladi. Tiada kesan.

Namun alhamdulillah apabila ujian blok menjelang, ada muka-muka yang sebelum ini selalu ponteng tetapi hadir semula memenuhi kerusi-kerusi kuliah. Mungkinkah mereka sudah sedar? Atau hanya sekadar mahu mengisi petak-petak di lembar absensi yang selama ini bersih tanpa sebarang tandatangan? Harapanku moga kesedaran yang hadir di hati mereka.

Doa ini aku hadiahkan bagi diriku dan sesiapa yang masih mengharapkan akan hadirnya Allah untuk mengubah kehidupannya:


Ya Rabb, Engkau Maha Besar, kekuasaanMu pasti lebih besar daripada masalah hamba. Engkau Maha Besar, ampunan dan rahmatMu pasti lebih besar daripada dosa hamba. Dan Engkau Maha Besar, kerana kebesaranMu maka tak layak hamba untuk berputus asa.


Ya Rabb, Engkau Maha Tahu ya Rabb, hamba yang berbuat dosa, selayaknya memang hamba yang menanggung segala akibatnya. Tapi hamba juga tahu, bahawa samudera ampunanMu begitu luas, sehingga mampu membebaskan hamba daripada segala akibat. Lantaran inilah harapan hamba muncul, maka jangan Engkau pupuskan harapan hamba ya Rabb.


Ya Rabb, di tengah lautan permasalahan kehidupan yang hamba hadapi, baik yang hamba buat sendiri, ataupun yang muncul akibat kelalaian dan kebodohan hamba, hamba tidak pernah ingin berhenti berharap, bahawa Engkau tidak akan pernah menutup mata terhadap kesalahan-kesalahan hamba, dan segera membentangkan lindungan dan pertolonganMu di atas kehidupan hamba.


Ya Rabb, di tengah keterbatasan hamba menutupi kesalahan-kesalahan hamba dan berjuang untuk hidup dan kehidupan, hamba tidak pernah ingin berhenti berharap, bahawa Engkau tidak akan pernah lari dari kehidupan hamba, betapapun hamba adanya.


Semoga harapan-harapan hamba ini tidak menjadi harapan kosong di mataMu, Engkaulah hujung segala harapan. Engkau bukan manusia yang punya kesabaran terbatas, kerana Engkau adalah Tuhan Semesta yang tidak pernah mempunyai batas.


04 Mac 2009

Perjuangkan BAHASA MELAYU !!


Menggunakan bahasa yang dapat menerangkan dan memahamkan konsep dan falsafah kebenaran adalah matlamat utama kenapa Al-Quran menggunakan bahasa ibunda Arab sebagai pengantar untuk menjelaskan makna dan intisari ajaran Islam kepada bangsa Arab.

"Dan demikianlah Kami wahyukan Al-Quran kepadamu dalam bahasa Arab, agar engkau memberi peringatan kepada penduduk ibu kota (Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (Qiamat) yang tidak diragukan adanya. Segolongan masuk syurga dan segolongan masuk neraka." (Asy-Syura: 7)


Bahawa bahasa yang tidak tercemar dengan makna dan faham yang terlepas dari konsep ketauhidan Allah dan membolehkan mesej asas Islam mengenai Ketuhanan disampaikan adalah punca kenapa Al-Quran memilih bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Lantaran itu Bahasa Melayu yang telah sarat melalui proses Islamisasi adalah bahasa yang paling wajar dijadikan bahasa pengantar dalam sistem pendidikan negara untuk menjayakan proses pembinaan tamadun Islam dalam masyarakat Malaysia.


"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran berbahasa Arab, agar kamu mengerti" (Surah Yusuf: 2)


"Dan demikian Kami menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebahagian dari ancaman agar mereka bertaqwa atau agar (Al-Quran) itu memberi pengajaran bagi mereka." (Surah Taha: 113)


"Dan sungguh telah Kami buatkan dalam Al-Quran ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka dapat pengajaran iaitu Al-Quran dalam bahasa Arab, tiada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertaqwa." (Az-Zumar: 27-28)


"(Al-Quran ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan bacaan dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui." (Fussilat: 2-3)


"Demi kitab (Al-Quran) yang jelas. Kami jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab agar kamu mengerti (Al-Zukhruf: 3)


Semua ayat ini menjelaskan betapa bahasa ada kaitan dengan mesej risalah Islam yang disampaikan kepada manusia.


Manakala bahasa Melayu yang sarat dengan konsep Islam daripada Al-Quran diketepikan penggunaannya dalam pengembangan ilmu, maka kesan sekularisasi bahasa yang telah berlaku dalam sejarah pengembangan bahasa Inggeris yang sangat dipengaruhi oleh sejarah sekularisasi agama Kristian akan mempunyai impak kepada masyarakat Melayu Islam di negara ini.


Sila click [di sini] untuk membaca lebih lanjut.



Aku Mau Membuat Mamaku Bangga !!


“Aku mau membuat mamaku bangga.” Ungkapan bersahaja ini diungkap oleh Upi, 11 tahun, seorang anak autis. Secara medis, Upi adalah anak yang yang secara mentalnya agak terhambat berbanding anak-anak yang sebaya dengannya. Pertumbuhan indera dan gerakannya lambat. Di bawah normal.

Upi diberitahu oleh abangnya bahawa dia boleh menjadi seorang perdana menteri suatu hari nanti. Namun dia menggeleng. Upi juga diberitahu bahawa dia masih boleh menjadi doktor. Lagi-lagi ia menggeleng. Kemahuannya hanya mahu memakai pakaian sendiri, dan mengikat tali kasutnya tanpa bantuan mamanya, agar mamanya itu bangga. Luar biasa bukan!


Cerita ringkas ini saya nukilkan berdasarkan pembacaan saya tentang kisah hidup anak yang mengalami autism. Malu saya apabila mengenangkan diri yang jarang sekali mempunyai harapan seperti Upi. Ingin membuatkan mamaku bangga !!


Kasih sayang bagaikan mata air, ia memberikan kehidupan. Kasih sayang boleh juga diibaratkan dengan matahari, yang menyinari kehidupan. Tanpa kasih sayang, apalagi kasih sayang antara anak dengan ibu, ibu dengan anak, dan keluarga, maka membatinlah kita.


Marilah kita menjenguk kembali sebentar sejarah kehidupan yag sudah kita lalui, adakah selama ini kita banyak membuat ibu kita menangis, atau bersedih? Adakah perbuatan kita, sikap kita, tidak menyenangkan ibu dan ayah? Kalau ada, dan selagi mereka masih hidup, mintalah segera maaf mereka. Mereka adalah bahagian yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Apalagi kita semua pernah menjadi anak, pernah menjadi bayi, dan semua dibesarkan serta dilahirkan dari rahim seorang ibu.


mama dan abahku

Mulailah menoreh kebanggaan di wajah ibu kita lantaran memiliki kita sebagai anaknya. Mulailah menorehkan senyuman di bibir tua ibu kita lantaran diberi-Nya anak seperti kita. Sentuhlah mereka dengan sentuhan kasih sayang, pijitlah urat-urat tua mereka yang sering kesakitan dengan pijitan yang hangat sambil bicara dari hati ke hati dengannya.


Sungguh, hanya kerana kalimat yang tak terungkap saja, orang tua –khususnya ibu- tidak mengungkapkan kerinduannya kepada kita. Mereka tentu sangat rindu mendakap kita, bercengkerama dengan kita, membelai kita. Mata mereka sering terpejam, menerawang masa-masa indah ketika kita masih dalam timangan, masih dalam dakapan.


Gambar hiasan

Ah, teringin menangis rasanya mata ini. Mengenangkan diri yang jauh dari mereka, namun jarang meluangkan masa untuk mengangkat telefon dan bertanya kabar mereka. Pulsa lebih sering dihabiskan untuk kawan-kawan berbanding orang tua di kampung. Mungkin mereka tidak mengungkapkan tetapi tanpa disedari hati mereka sudah terhiris. Adakah ini yang membuatkan mamaku bangga??!


Buatlah ibu dan ayah kita bahagia. Carilah apa sahaja yang boleh membuatkan mereka tersenyum indah. Hantarlah masa tua mereka dengan sisa sejarah yang menyenangkan.


Gambar hiasan


Ini saja inti tulisan ini. Jangan sampai menyesal, ketika muncul perasaan ingin membahagiakan, tapi orang tua sudah tidak ada, iaitu meninggal dunia.


Ah, teringin menangis lagi rasanya. Mereka memberikan waktu mereka, kehidupan mereka, untuk kita, anaknya. Tapi kita, ketika sudah dewasa, dan memiliki kehidupan, untuk bertanya kabar saja dengan mereka enggan. Ah, betul-betul ingin menagis rasanya. Mereka curahkan sepenuh hati kasih sayang, tapi apa yang kita mampu berikan kepada mereka? Bahkan sedikit sisa waktu pun tidak.


Mama..maafkan diriku.


Dan, sekarang saya benar-benar menangis, tidak sanggup saya meneruskan kata-kata...

Siapakah Ulama'?

Siapakah ulama’ ?? Persoalan yang sering bermain di fikiran saya. Kalau menurut bahasa arab, secara sederhananya ia bermaksud orang yang berilmu. Jadi adakah semua orang yang menuntut ilmu, bermula dari belajar ABC dan mengira 123 di tadika, sehinggalah belajar di puncak menaring gading sudah boleh digelar ulama’ kerana ilmu-ilmu yang mereka miliki?


Atau apakah ulama’ itu gelaran eksklusif yang menggambarkan seorang pelajar lepasan Al-Azhar, atau seorang guru yang mengajar agama di sekolah-sekolah atau di pondok-pondok pengajian, atau bagamana?...


Persoalan ini perlu dijawab dengan tuntas kerana penggunaan istilah ini yang salah akan membawa kepada salah pula pengertiannya. Akibat dari itu, maka istilah ulama’ itu sendiri nanti tidak akan menggambarkan definisi sebenar seperti apa yang dikehendaki oleh kaca mata pandangan Islam.


Jadi, apakah sebenarnya definisi ulama’ ? Persoalan ini sebenarnya telah dijawab secara jelas lagi menjelaskan oleh guru kami, Al-Fadhil Ustaz Zulkifli Haji Ismail di dalam kitab beliau yang agung iaitu Ancaman Bahaya Sekularisme. Pada bahagian pendahuluan kitabnya, beliau telah menguraikan maksud sebenar ulama’ yang dibahagikan kepada ulama secara umum dan ulama’ secara khusus.


Guru kami, Ustaz Zulkifli Haji Ismail


Ulama' Dalam Pengertian Umum


Seorang ulama’ secara umumnya adalah setiap Muslim yang telah memiliki ilmu yang luas, mantap, lagi sangat mendalam di dalam sebarang cabang ilmu pengetahuan yang dituntut oleh Islam manusia mempelajarinya. Kedalaman ilmunya itu sampai ke peringkat menyingkap kepadanya hakikat sebenar kebergantungan alam ini kepada Allah SWT yang Maha Berkuasa dan membawanya kepada suasana menyaksikan bagi dirinya dan manusia akan kebenaran ketauhidan, keindahan, kebesaran dan keagungan Allah SWT yang Maha Berkuasa itu.


Perasaan tersebut yang berpunca dari ilmunya yang mendalam itu mewariskan ke dalam dirinya perasaan kebimbangan dan ketakutan yang sebenar terhadap Allah SWT. Perasaan bimbang dan takut ini jugalah yang akhirnya mendorongnya mentaati segala suruhan Allah SWT dan menjauhi segala laranganNya serta menghalusi setiap ketaatannya itu dengan adab-adab kehambaan yang amat tinggi.


Ulama’ dengan pengertiannya yang asasi ini adalah yang termasuk di dalam pengajaran firman Allah SWT dalam surah Faathir ayat 28 yang bermaksud :

..Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama’. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.


Sebagai contoh, seorang mahasiswa kedokteran mempelajari dan mendalami ilmu anatomi sehingga suatu tahap beliau merasakan bahawa terlampau uniknya rupa bentuk dan susunan setiap unit tulang, otot, sendi, aliran darah, saraf, dan organ sehingga ia saling terkait dan memerlukan satu sama lain dalam membentuk suatu sistem tubuh bagi menggerakkan manusia secara normal.


Perasaan kagum ini membuatkan beliau mencari akan pencipta sistem yang sebegitu sempurna. Dan akhirnya pasti beliau akan menemui akan adanya zat Yang Maha Bijaksana dan Maha Berkuasa dalam mencipta setiap sesuatu dan mengaturnya dengan penuh hikmah dan seimbang sehingga bertambahlah keimanannya akan wujudnya Allah dalam setiap pengaturan alam ini.


Ulama' Dalam Pengertian Khusus


Pengertian ulama’ secara khususnya pula ialah selain dari ciri-ciri umum yang disebutkan tadi, mereka juga adalah golongan beriman yang telah berjaya memahami dan menguasai mana-mana bahagian dari ilmu syariat atau keagamaan secara meluas dan mendalam, yang telah diperintahkan oleh Allah SWT ke atas seluruh golongan beriman bertanya kepada mereka di dalam memahami ajaran agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada manusia.


Tuan Guru Nik Aziz bin Nik Mat

Di dalam Al-Quran, ulama’ sedemikian telah disebut sebagai golongan yang memiliki pengetahuan yang sangat teguh dan mendalam terhadap Kitab yang diturunkan oleh Allah SWT. Firman Allah SWT di dalam surah al –Anbiyaa’ ayat 7 yang membawa maksud :


Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui.


Di dalam hadis Nabi SAW, mereka yang memiliki ilmu yang teguh dan mendalam terhadap Kitab Allah SWT telah disebut oleh Rasulullah SAW sebagai waris kepada para Nabi AS yang mewarisi ilmu pengetahuan para nabi terhadap ajaran-ajaran agama yang telah diturunkan oleh Allah SWT di dalam KitabNya. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud :


Sesungguhnya para ulama’ itu adalah waris para Nabi, sesungguhnya para Anbiaa’ tidak mewariskan dinar dan juga dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka sesiapa sahaja yang mengambilnya maka dia sebenarnya telahmendapatkan bahagian yang paling sempurna.


Oleh yang demikian para ulama’ yang menjadi pewaris ilmu para nabi AS tersebut selain dari pengetahuan mereka yang telah benar-benar mendalam terhadap ketauhidan, keindahan, kebesaran dan keagungan Allah SWT, mereka pula adalah pemelihara kebenaran dan penjaga ketulinan ajaran-ajaran agama, manhaj dan syariat Allah SWT secara teguh dan tetap dengan mengambil kefahamannya dari keterangan-keterangan Sunnah Rasulullah SWT melalui kaedah keilmuan yang diakui pemakaiannya oleh Al-Quran dan Sunnah RasulNya sendiri.


Oleh itu para ulama’ dengan sebab ilmunya yang mendalam adalah golongan manusia yang sangat menjaga kesenian adabnya terhadap Tuhannya, sangat mematuhi dan mengagungkan syariat Tuhannya, sangat mengharapkan balasan baik di akhirat dan sangat berhati-hati pula terhadap pengaruh kesenangan dan kemewahan dunia yang selalu meragut kesetian manusia terhadap Allah SWT yang Maha Berkuasa.


Sahabat-sahabat sekalian, lihatlah pada hari ini akan munculnya golongan-golongan tertentu, yang kononya bergelar bijak pandai dan dongengnya juga ingin memperjuangkan Islam, secara terang-terangan telah menentang para ulama’ yang berada di manhaj yang benar. Mereka bukan sahaja menolak pendapat ulama’ dan sanggup memberikan gelaran yang bukan-bukan kepada golongan ulama’, malah mereka turut menghidupkan dan memperjuangkan ajaran sekular yang pastinya sudah jauh menyimpang dari perjuangan yang dibawa oleh para ulama’.


Sedarlah bahawa apa yang terjadi hakikatnya adalah pertembungan di antara para intelektual dan ahli-ahli akademik yang berfahaman sekular atau yang sekurang-kurangnya masih beraqliah sekular dengan golongan para ulama’ yang diakui oleh Islam dalam pengertian umum dan khusus. Ia bukanlah pertembungan antara para ulama’ Islam yang menjadi pewaris Nabi AS atau pertembungan agama dengan penemuan-penemuan sains yang sebenar, sebagaimana yang cuba digambarkan oleh para intelektual dan ahli-ahli akademik sekular tersebut.


Dengan mengetahui hakikat sebenar maksud dan tujuan para ulama’, termasuk pembahagian-pembahagianya, saya mengharapkan agar saya dan para sahabat sekalian dapat bersama-sama berusaha menjadi sebahagian dari golongan para ulama’ tersebut. Biarlah segala yang kita pelajari dalam apa jua bidang sekalipun semuanya menuju ke arah meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dan untuk mengenal akan kebesaranNya.


Hindarkanlah dan janganlah terperangkap dengan dakyah-dakyah golongan-golongan sekular yang seringkali cuba mencari peluang dalam mengelirukan akidah umat Islam dan mencemarkan ajaran Rasulullah yang murni ini. Mungkin pada lain kesempatan saya akan membawakan contoh-contoh yang berlaku di dalam mahupun di luar negara tentang tentang kejinya perjuangan golongan sekular dan liberal dalam menjatuhkan Islam.


Saya mengaharapkan Allah membantu perjuangan para ulama’ di negara yang kita cintai, Malaysia dalam usaha menentang golongan Sekular laknatullah dan mewujudkan kembali segala ajaran Islam yang suci sehingga menaungi seluruh alam ini sebagaimana firman Allah SWT yang bermaksud :


Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.


Wallahu’alam.

 


ZIKIR & FIKIR - Templates Novo Blogger 2008